Kyai Sakti yang Masih Hidup

Diposting pada

Kyai sakti yang masih hidup. Di wilayah Walangsanga, Moga, Pemalang, Jawa Tengah, dilanjutkan dengan menteri kerakyatan. Ia bernama Kiai Nur Durya Bin Sayid atau bisa juga disebut Kiai Nur Walangsanga.

Tak hanya di kotanya, orang yang akrab disapa Mbah Nur ini dikenal oleh para penjelajah yang datang dari berbagai penjuru Nusantara. Menjelang Sya’ban, banyak warga Nahdlatul Ulama (NU) yang antre memasuki kawasan makam.

Dilepas dari Ipnu.or.id, yang membuat Mbah Nur sangat populer di kalangan warga NU adalah kehormatan yang ia dapatkan sejak remaja. Bahkan sebagian muridnya melihat sendiri bagaimana Mbah Nur memberikan “keajaiban” yang mengejutkan orang lain, namun dalam sekejap menemukan cara untuk menyelamatkan keberadaan murid-muridnya.

kyai sakti yang masih hidup image
kyai sakti yang masih hidup

Mbah Nur adalah pribadi yang lugas. Dilahirkan dengan nama Nur Durya Bin Zahid di Pemalang, Jawa Tengah, pada tahun 1873, ia memutuskan untuk tinggal di tempat yang tenang jauh dari gerombolan, tepatnya di tepi aliran air di kawasan persawahan.

Dalam mengajar di Desa Walangsanga, Mbah Nur dinamis dalam menyambut para penghuninya untuk diakui dalam perkumpulan.

Ada hal menarik pada pada sikap kayang bagian tubuh yang menjadi pusat tumpuan adalah, hewan yang sudah punah tapi masih hidup, dan pengelompokan makhluk hidup ke dalam lima kingdom yang tepat adalah yang bisa kita dalami lebih lanjut.

Namun memang ada hal penting pada lampu yang hanya terdapat pada bagian belakang kendaraan antara lain, makhluk hidup yang mengalami mutasi disebut, urutan daur hidup nyamuk yang benar adalah, dan apakah yang dimaksud dengan pandangan hidup yang bisa kita prioritaskan.

Tak hanya itu, Mbah Nur juga dikenal memiliki kekuatan untuk menjaga mandinya. Dia tidak akan beristirahat sebagian besar malam untuk pergi ke Allah SWT dan memohon kepada Tuhan agar orang-orang di sekitarnya mendapatkan kemurahan dan pengampunan dari yang kuat.

Selain mengajar, Mbah Nur sehari-hari bekerja dengan mengelompokkan banteng yang bertempat tinggal bersama warga Desa Walangsanga. Meski begitu, ketika kesempatan yang ideal untuk memohon kepada Tuhan datang, dia bahkan tidak meninggalkan doa berjamaah sampai kematiannya.

Apalagi Mbah Nur disebut pelit dan tidak suka dunia. konon ketika hendak mengambil air mandi, ia mendapat uang tunai yang cukup banyak yang letaknya dekat dengan tempat pemandian. Namun, dia tidak mengambil uang itu karena itu bukan haknya.

Setelah lama tinggal di Desa Walangsanga, ia pergi ke pengasingan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT di lereng Gunung Sembung. Ia perlu lebih serius lagi mengagungkan Allah SWT.

Di antara mahasiswa atau orang yang mengenal sosoknya, Mbah Nur memiliki beberapa gelar. Berangkat dari Ipnu.com, pada tahun 2011 silam, saat Mbah Nur ditendang, penggantinya, KH. Abdul Muid melakukan perjalanan ke makam Mbah Nur.

Saat hendak pulang, angkutan yang dibawanya macet dan tidak bisa jalan sampai jam 3 malam. Itulah sebabnya ia dan pengawalnya memilih bermalam di makam Mbah Nur.

Sejak saat itu, tanpa melakukan tindakan apa pun, kendaraan dapat dimulai tanpa bantuan orang lain. Saat muncul di kota Pemalang, ternyata KH. Abdul Muid mengatakan, jalan yang dilaluinya belum lama ini diterjang banjir kobaran api dan membuat salah satu perpanjangannya putus.

Setelah kejadian itu, dia menyimpulkan bahwa Mbah Nur tidak membutuhkan santri kesayangannya itu untuk pulang karena bisa saja tertimpa musibah saat bertamasya.

Apalagi ada tambahan kisah rumah Mbah Nur yang berada di tepi aliran air. Meski langsung menyatu dengan aliran air, saat kobaran api datang, air saluran itu tak sedikitpun meruntuhkan rumah Mbah Nur.

Aliran air tampak menjorok menjauhi rumah yang hanya terbuat dari bambu. Dari rangkaian kesempatan ini, sebenarnya tidak diharapkan orang-orang menganggapnya sebagai kiai paling berpengaruh di Jawa Tengah.

Dalam gudang studi misterius Jawa, berbagai jenis informasi yang lebih baik diketahui daripada mengatasi jarak dan waktu. Salah satunya adalah Ajian Saipi Angin. Ada tiga macam mantra ini, dua lainnya disebut Kidang Kuning dan Asma Gunting.

Ketiga tilawah tersebut memiliki kemampuan yang sama, untuk melegakan tubuh atau menempuh jarak yang cukup jauh dalam waktu yang singkat tanpa merasa berat.

Semua hal dipertimbangkan, seperti yang ditunjukkan oleh kisah Ajian Saipi Angin harus dimiliki oleh para biksu atau juara kelas atas. Selain sangat jarang untuk Ajian ini, prasyaratnya sangat berat.

Aji Saipi Angin memanfaatkan laki-laki salah satunya puasa, hanya makan daun mentah tanpa garam. Hidrasi, tetapi juga bisa digelembungkan. Puasa dimulai pada hari Selasa Kliwon.

Ajian Kidang Kuning tidak kalah luar biasa. Orang-orang yang menguasainya dapat berlari begitu cepat sehingga kaki mereka seolah tidak menginjak bumi.

Salah satu syarat untuk menguasai mantra ini adalah puasa dengan puasa ‘Ngidang’, puasa yang hanya memakan daun mentah yang ada di bawahnya, meminum air mentah juga, bisa diteguk sama panjangnya tanpa menggunakan garam.

Dalam hal lain, jika Anda telah menguasai Ajian ini, dengan asumsi Anda berjalan-jalan dengan orang lain, Anda harus berada di depan sendirian.

Kiyai Maksum Djauhari atau disebut juga Gus Maksum adalah Kyai paling impresif di Jawa dengan kesaktian tinggi. Itulah mengapa Gus Maksum sangat dikenal sebagai seorang petarung karena kepiawaiannya dalam membahas kitab kuning serta ahli dalam teknik beladiri atau silat. Beliau adalah pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Lirboyo, Kediri, Jawa Timur.

Berdasarkan referensi dari buku Antologi Sejarah, Syarat, Amaliah, Uswah NU, karya Soeleiman Fadeli dan Muhammad Subhan, Gus Maksum memang lebih memilih menjelajah ke berbagai daerah di Pulau Jawa untuk berkonsentrasi pada teknik adu jotos.

Itulah sebabnya di masa dewasanya ia memiliki semua ciri sebagai juara yang luar biasa di kalangan NU. Penampilannya dengan rambut panjang, rambut wajah panjang dan kumis, sarung tangan setinggi lutut, memakai penghalang, berpakaian sederhana dan tidak makan nasi menyebarkan berita tentang sihirnya untuk menjadi sempurna.

Konon katanya kuat sampai-sampai rambutnya tidak bisa dipangkas, mulutnya bisa meludah, bisa melempar sapi seperti lempar sepatu, tidak bisa ilmu hitam, tidak bisa menggunakan senjata tajam, gesit menaklukkan jin, dll.

Bagaimanapun, saat ini Gus Maksum sudah meninggal, dia menendang ember di Kanigoro pada 12 Januari 2003. Jenazahnya disemayamkan di kuburan keluarga, di sebelah barat masjid tua Ponpes Lirboyo. Beberapa waktu lalu, Gus Maksum dikenal sebagai Kyai paling berpengaruh di Jawa.

Kyai paling luar biasa di Jawa berikutnya adalah Kyai Abbas Buntet dari Cirebon. Kiai yang satu ini membangkitkan jiwa keberanian dengan berjuang melawan penjajah Belanda. Kiyai Abbas adalah anak seorang pendeta NU, sehingga kemampuan dan kesaktiannya yang luar biasa diturunkan dari ayahnya.

Kiai Abbas adalah anak tertua dari Kiai Abdul Jamil yang dilahirkan ke dunia pada hari Jumat 24 Zulhijah 1300 H atau 25 Oktober 1800 M di kota Pekalangan, Cirebon. Kakeknya juga merupakan pengelola Pondok Pesantren Buntet di Cirebon.

Semasa kecilnya, Kiyai Abbas mempertajam ilmunya di berbagai daerah di Jawa, khususnya Jawa Tengah, Tegal, Jogja, dan berbagai sekolah pengalaman hidup Islami lainnya. Ia pun berkonsentrasi di Mekkah dan kembali bersama Kiai Bakir Yogyakarta, Kiai Abdillah Surabaya dan Kiai Wahab Chasbullah Jombang.

Sebagai santri dewasa, dalam waktu senggangnya Kiai Abbas diturunkan untuk menunjukkan umat (orang Indonesia yang ditinggalkan di Mekah).

Kanuragan dan Seni Bela Diri selamanya menjadi disiplin utama pesantren Buntet, dididik oleh Kyai paling mengesankan di Jawa, Kyai Abbas. Dengan menampilkan kajian kanuragan, pesantren Buntet dimanfaatkan sebagai pusat komando pembangunan Republik untuk memerangi imperialisme.

Sejak saat itu, Pondok Pesantren Buntet menjadi alasan perjuangan umat Islam melawan para penyusup yang merupakan individu-individu dari posisi Hizbullah.

Kyai paling luar biasa di Jawa berikutnya adalah Kyai Amin. Beliau adalah seorang Kyai NU yang memiliki karomah luar biasa lugas dari Allah SWT. Dia tidak hanya mampu dalam informasi yang ketat, tetapi juga sangat berbakat dalam teknik kanuragan dan pertempuran.

Ia memperoleh dari ayahnya sendiri, Kyai Irsyad, yang meninggal di Mekah sekitar waktu itu. Kiyai Amin lahir ke dunia pada hari Jumat, 24 Dzulhijjah 1300 H, bertepatan dengan tahun 1879 M, di Mijahan Plumbon, Cirebon, Jawa Barat. Konon Kiai Amin adalah jebakan ahlul, dari riwayat keluarga Syech Syarif Hidayatullah.

Selain dikenal sebagai peneliti, Kiai Amin juga disebut sebagai Kyai paling terkemuka di Tanah Jawa, pejuang yang mendominasi teknik adu dan kanuragan.

Ada cerita di kalangan warga Ciwaringin, dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, Kiai Amin dan beberapa pendeta di Cirebon ikut mengirimkan pasukan ke Surabaya. Bahkan Kiai Amin sendiri ikut dalam perjalanan tersebut dan selanjutnya mencari pembiayaan untuk biaya penerbangan.

Bagi warga Nahdliyin, Kyai Amin dikenal sangat luar biasa. Diungkapkan bahwa dalam konflik di Surabaya, dia tidak menggunakan senjata atau proyektil saat berperang. Sejujurnya, juga terungkap bahwa dia tidak menendang ember meskipun dia dilempari bom berkali-kali.

Sungguh fenomenal, itulah karomah yang Allah berikan kepada Kyai NU ini, Kyai paling hebat se-Jawa.

Kyai paling luar biasa di Jawa berikutnya adalah Kyai Hamid yang berasal dari Pasuruan. Ia juga memiliki karomah istimewa yang diberikan oleh Allah secara langsung.

Suatu ketika pada masa pemerintahan Orde Baru, Kiai Hamid dipersilakan untuk bergabung dengan partai otoritas publik. Ia pun mengundang salam dengan ramah dan mengajak para tamunya dari kalangan pejabat.

Padahal, ketika surat pengesahan untuk masuk ke partai otoritas publik itu diserahkan dengan penanya, Kiai Hamid justru mengakui dan menandainya.

Kehidupan individu di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari segala sesuatu yang berbau dunia lain dan misterius. Dari masa yang termasyhur hingga masa yang lebih maju, individu masih alami, meskipun tidak sebanyak hari ini seperti sebelumnya. Salah satunya adalah mantera mandraguna.

Tragisnya, sebagian besar pelajaran tersebut saat ini sudah jarang ditemukan, misalnya kajian aji Gineng yang dikenal sangat menantang mengingat keseriusan tirakat.

Tidak heran jika di zaman yang sudah maju seperti sekarang ini, pelajaran-pelajaran yang terkenal pada zamannya jarang terdengar oleh kalangan usia yang lebih muda. Apa pun? Lihatlah audit yang menyertainya.

Ajian Saipi Geni atau yang biasa disebut dengan Kulhu Geni, merupakan salah satu ilmu kanuragan tingkat agung karena kemampuannya memakan makhluk-makhluk sakti, misalnya jin dan semacamnya. Sebenarnya, Kulhu Geni dipamerkan oleh mistik Ki Prana Lewu melalui media sebagai sehelai kain yang kemudian dikonsumsi setelah disuguhkan mantra.

Dilihat dari namanya, Serat Bayu Bajra merupakan ilmu kanuragan yang berhubungan dengan angin. Memang, orang-orang yang memiliki keahlian luar biasa ini akan dapat terbang di udara.

Meski tidak terlihat dengan mata telanjang, sihir ini seharusnya terlihat dalam transfer seorang mistik bernama Pak Dhen dalam videonya yang berjudul “Pak Dhen melawan Jin Bayu Bajra”.

Di dunia maya, kata Waringin Sungsang diketahui merupakan peninggalan Sunan Kalijaga yang merupakan salah satu orang Wali Songo. Motivasi di balik pembuatan informasi ini sendiri digunakan untuk memerangi kejahatan yang melalui perantara ilmu hitam.

Salah satu keterampilannya yang mengejutkan bagi orang-orang yang melakukan kesombongan adalah bahwa kekuatannya yang luar biasa dapat diserap sepenuhnya oleh pemilik informasi ini.

Yang pasti, ada individu tertentu yang mungkin mendominasi sebagian dari jenis mantra yang direkam sebelumnya. Meskipun demikian, biasanya ditutup-tutupi dan tidak ditampilkan secara langsung. Khususnya di tempat terbuka atau untuk pemanfaatan individu adat.

Dalam semua kejujuran, semuanya kembali ke satu sama lain. Karena yang jelas hal-hal surgawi seperti sihir adalah barang asli yang tidak dibatasi oleh aspek dan realitas.

Keberaniannya dalam menguji arus sosial kyai yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah yang sebenarnya yang telah digali dalam iklim pesantrennya, perlawanannya terhadap arus kyai tidak bergantung pada kesimpulan sederhana, juga bukan untuk menghina kiai.

Pertemuan, perasaan atau pembalasan, bagaimanapun adalah Kehendak, Hidayah dan Taufiq dari Allah ta’ala.

Kyai Afrokhi hanya menyampaikan apa yang ma’ruf dan mencegah apa yang curang, mengatakan bahwa apa yang benar adalah benar dan apa yang terjadi adalah batil.

Namun, upayanya dianggap sebagai plot yang bertentangan dengan pelajaran Nahdhatul Ulama (NU), sehingga dia seharusnya dikeluarkan dari partisipasi NU tanpa menjelaskan masalah ini kepadanya.

Kyai Afrokhi tidak mengetahui tentang izinnya masuk NU. Dia mengetahuinya dari tetangga dan anggota keluarganya.

Dalam hal Kyai, Gus dan Habib tidak hanya mengedepankan citra diri, maka pada saat itu mereka perlu menasihati dan memperhatikan masalah pendidikan yang ketat ini, kemudian membahas mengapa dia melakukan ini,

dia tentunya memiliki pilihan untuk memaknai masalah ketat ini dengan dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah yang sahih yang harus benar-benar dididikkan kepada para siswa dan individu secara keseluruhan.

Tentunya informasi tentang kyai sakti yang masih hidup akan membuat kita menjadi lebih baik.

2 komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.